complicated

Sebelumnya pasti banyak yang bertanya-tanya mengenai ESENSI dan EKSISTENSI, begitu  juga dengan aku yang masih mencari tahu apa arti dan makna sebenarnya dari kedua kata tersebut. Disini aku ingin menguraikan beberapa perspektif tentang ESENSI dan EKSISTENSI, sudah seharusnya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan ESENSI dan EKSISTENSI karean hidup kita tidak jauh-jauh dari kedua kata tersebut. Jika kita lihat dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonseia), ESENSI disana adalah hakikat; inti; hal yg pokok sedangkan EKSISTENSI adalah hal berada; keberadaan. Sejatinya, Manusia terbentuk atas ESENSI dan EKSISTENSI, dimana ESENSI adalah arti dari hidup manusia, maka termasuk juga didalamnya tujuan dan proses hidupnya. Sedangkan, EKSISTENSI adalah keberadaan manusia, maka termasuk dirinya sendiri dan lingkungan hidup serta norma sekitar. Jika dilihat dari sifatnya EKSISTENSI itu bersifat fana, sementara ESENSI bersifat kekal. Karena Eksistensi itu adalah keberadaan sementara Esensi adalah dasar dari mengada, maka Esensi adalah dasar atau sumber dari keberadaan.

Bagaimana? apakah masih bingung dengan ESENSI dan EKSISTENSI? aku rasa belum cukup pejelasannya (karena aku sendiri juga sebenarnya masih bingung dan penuh “tanda tanya”), kalau begitu mari kita tambahkan contohnya, karena menurutku teori tanpa contoh akan susah dipraktekkan. Aku pernah membaca contoh ESENSI dan EKSISTENSI yang kurang lebih seperti ini “Cantik bukanlah molek, ayu, gemulai, manis dan sebagainya. Karena semua itu adalah eksistensi dari kecantikan. Cantik juga bukanlah “cantik” akibat fisik, tingkah laku dan budaya. Karena semua itu adalah kesepakatan. Memiliki kecantikan adalah esensi. Semua cantik, namun tidak semua mempunyai eksistensi. Cantik yang dilihat mata manusia, yang dirasa perasaan manusia adalah kertas tebal yang melindungi dan mengerutkan bagian beningnya di dalam”. Dari contoh tersebut aku mengambil kesimpulan bahwa ESENSI itu “mutlak” dan sudah kita miliki sejak lahir, sedangkan EKSISTENSI itu hanya “kesepakatan” yang mana telah “diakui” oleh lingkungan hidup kita agar tetap “eksis” sebagai “pribadi dan sosial“. Ada juga contoh lain yang mungkin bisa “menguatkan” ESENSI dan EKSISTENSI tersebut, sebagai contoh bila kita melihat seorang teman kita yang “berbeda (aneh)” atau “tidak enak dilihat dan enak untuk diejek” maka dari itu pahamilah terlebih dahulu Esensinya. Jika kita melihat Eksistensinya sebagai “bahan ejekan atau bahan candaan”, maka kita buta akan esensinya sebagai “Pribadi”. Tetapi jika kita melihat esensinya, menghargai keberadaannya sebagai pribadi, dan mencoba menempatkan pribadi kita bila diperlakukan seperti dia, maka kita tidak akan peduli, baik dia itu tua atau muda, bagus atau jelek, ada atau tiada, kita akan menganggap dia setara dengan kita dan menghargai “keberadaannya”.

Dari penjelasan diatas aku disini sangat berharap kita bisa saling menerima satu sama lainnya dan juga bisa saling menghargai keberadaan yang berbeda. Sejatinya, walaupun kita ini berbeda dan perbedaan itu sesungguhnya indah, namun ingat kita ini “sama” di mata TUHAN! Maka dari itu mari kita berama-sama menjalani hidup dengan “mendahulukan” ESENSI yang berlanjut kearah EKSISTENSI demi mengarah ke kehidupan yang efisien dan konsisten dalam perspektif Esensi dan Eksistensi tadi.

If you’re having trouble deciding what to believe, it might be that you confuse about the reality”

 

 

Kamis, 10/02/2011. 10:28, somewhere between heaven and hell.

(Bharga Wisnawa a.k.a Junkhnny Cash)

About these ads